Minggu, 05 April 2015

SIAPAKAH ORANG YANG SELALU ADA DISISIMU?


Hallooo kenalin nih nama saya Rama Bintang, saya mahasiswa tingkat 3 Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan Public Relations di Universitas Islam Bandung. saya ingin berbagi cerita dengan teman-teman semua tentang pentingnya sebuah keluarga, karena saya sudah sedikit merasakan pengalaman hidup yang sangat berarti bagi saya, dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi diri saya juga yang membaca yaa. Oke kita mulai dari sini aja... cekidot...
Dua taun terakhir rutinitas saya lumayan padat, karena memang saya merasakan semakin tinggi kita berpendidikan maka terpaculah kita ingin menjadi mahasiswa yang matang pula, bukan sekedar mahasiswa yang apatis, tetapi dari dalam diri saya muncul keinginan untuk menjadi mahasiswa yang aktif di dalam maupun luar kampus. Oleh karena itu di pertengahan tahun 2013 saya mulai mencari ide-ide kreatif yang bisa dijadikan kegiatan yang positif. Pada saat itu munculah ide dari hobi saya sendiri yang memang hobi di bidang musik dan event, saya berfikir kenapa gak coba aja buat media sendiri, biar bisa masuk ke event gratisan dan bisa ketemu artis secara langsung hehehe. Dari situ munculah ide untuk membuat semacam media massa online, yang saya berinama StereoSnap ID. Disini saya tidak sendirian, saya mencari partner dari teman-teman saya yang memang berbeda-beda kampus, tetapi memiliki hobi yang sama. Disitulah awal mula saya serius ingin menitih karir sesuai dengan hobi dan fashion saya.
Setelah setahun dijalani bisnis media ini ternyata cukup menggiurkan, tidak hanya masalah uang tetapi dari relasi, pengalaman, dan yang jelas ini menjadi hobi dan fashion saya. Dari situ saya sangat semangat menjalankan media ini, hingga munculah relasi-relasi baru yang menawarkan beberapa kegiatan juga. Di akhir tahun 2013 saya tergabung dengan sebuah band, karena memang hobi saya juga di bidang musik jadi tentu tawaran ini sangatlah saya terima dengan senang hati. Dan di tahun 2014 awal tepatnya bulan februari saya di terima di salah satu lembaga kampus yaitu himpunan mahasiswa public relations, saya sangat senang karena saya berfikir semakin saya mencoba dunia yang baru pengalaman dan relasi akan semakin kaya, apalagi ini berkaitan dengan jurusan yang saya tekuni dan ini adalah bidang saya, gambaran jika suatu saat saya kerja menjadi seorang PR perusahaan, amiiin...
Di tahun yang sama 2014 saya merasakan banyak sekali kegiatan yang saya tekuni, mulai dari media, band, lembaga kampus dan yang pasti harus bisa membagi waktu semua kegiatan itu dengan kegiatan utama saya menjalani pendidikan kuliah, juga membagi waktu untuk refreshing dan ber-olahraga. Disitu saya sedikit kewalahan karena saya tau otak tidak bisa terlalu banyak menampung, oleh karena itu  saya harus bisa menyisihkan salah satu kegiatan yang dianggap tidak terlalu penting dan saya harus bisa memprioritaskan mana yang lebih penting dari semua kegiatan terserbut.
Seiring berjalannya waktu saya merasakan kegiatan saya semakin meningkat dan alhamdulillah berguna untuk diri sendiri juga orang banyak. Hingga di akhir tahun 2014 tepatnya di bulan desember saya terpilih menjadi ketua pelaksana event terbesar di jurusan saya, dan alhamdulillah bisa terbilang sukses dengan mendatangkan kurang lebih 2.000 pengunjung melebihi target yang hanya 1.000 pengunjung. Dan puncaknya di awal tahun 2015 saya terpilih menjadi kandidat ketua Himpunan jurusan saya, meskipun gak menang sih tapii yaa lumayan lah pengalaman hehe. Dari semua kegiatan itu saya merasakan keterbatasan fisik saya, saya mulai sering merasakan kecapean, padahal jauh sebelumnya orang tua saya sering bilang “jangan terlalu over dalam melakukan sesuatu, meskipun itu positif dan dirasa enak tapi inget karena kesehatan yang paling utama, jangan terlalu cape”.
Beberapa tahun kebelakang saya sangat sering mengabaikan kalimat tersebut, karena saya terlalu bersemangat dalam menekuni semua kegiatan itu. padahal keluarga saya sering mengingatkan dan sangat sering menghawatirkan kesehatan saya hingga beberapa kali melarang saya mengikuti kegiatan sebanyak itu. saat memasuki bulan februari akhir saya baru berfikir bahwa kesehatan itu sangatlah penting, dari situ saya terpacu untuk mencoba pola hidup sehat, saya mulai rutin ber-olahraga, menjaga pola makan yang baik, dan mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk saya.
Tetapi tidak kurang dari tiga minggu berjalan tepatnya pada tanggal 10 maret saya merasakan gejala yang sangat hebat, badan saya demam tinggi, perut melilit seakan di putar-putar didalam, badan terkujur sangat lemas. Ibu saya langsung bertindak cepat, saya langsung dilarikan ke dokter terdekat, dan kata dokter ternyata hanya gejala magh saja, saat itu semua keluarga saya sedikit tenang karena penyakitnya masih bisa di obati di rumah. Setelah sehari diobati di rumah ternyata gejala yang saya alami malah semakin memburuk, saat itu saya langsung di bawa ke rumah sakit dan pada saat di cek oleh dokter khusus, saya di diagnosis terkena usus buntu akut. Dan harus segera di operasi. Semua keluarga saya ada di situ, ibu, ayah, dan kaka saya. Seketika semua kaget. Karena memang belum pernah ada di keluarga saya yang terkena penyakit hingga harus di operasi. Semua belum percaya bahwa saya memang harus di operasi, orang tua saya langsung bertindak cepat saya di tes melalui cek lab, rongen, usg, hingga ct scan untuk meyakini bahwa penyakit saya ini usus buntu akut dan harus segera di operasi, saat hasil sudah terlihat ternyata benar bahwa saya terkena usus buntu akut dan harus segera di operasi besar. Saya dan keluarga semua pasrah, hanya bisa berdoa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan dan bisa pulih kembali.
Pada saat itu hari jumat tanggal 13 maret, tepat pukul 21.00 WIB saya dimasukan ke ruang operasi, setelah 2 hari sebelumnya saya sempat di rawat di rumah sakit. Semua tidak menyangka bahwa saya yang sehari-harinya menjalani aktivitas yang mobilitasnya cukup tinggi bisa sakit dan hingga di operasi seperti ini, saya hanya bisa terkujur lemah saat itu. keluarga saya hanya bisa terus berdoa dan semua menunggu saya di luar ruang operasi meskipun saat itu hari sudah larut, tetapi kecintaan mereka terhadap saya tidak pernah ada habisnya. Ini adalah pengalaman pertama yang saya rasakan, sungguh gak pernah nyangka sebelumnya saya bisa seperti ini. Setelah selesai operasi sekitar pukul 24.00 saya merasa sadar gak sadar karena masih terpengaruh obat bius, pada saat keluar dari ruangan saya melihat samar-samar wajah orangtua saya juga keluarga-keluarga saya yang lain yang setia menunggu hingga pada saat itu, tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa pada mereka karena badan saya sangat terkujur lemah sekali.
Setelah proses operasi selesai saya dirawat sekitar 5 hari di rumah sakit untuk proses pemulihan. Rasanya sangat lemah sekali badan saya, jika tidak ada keluarga yang setia menemani saya pada saat itu, saya tidak bisa apa-apa. Saat masa pemulihan kedua orangtua saya selalu ada disisi saya, menjaga dan merawat saya. Padahal saya tau pada saat itu masih sangat banyak pekerjaan penting mereka yang belum sempat dikerjakan, tetapi mereka lebih memilih merawat saya. Meskipun saya juga tau tidak sedikit uang yang di keluarkan oleh kedua orangtua saya pada saat itu, tetapi mereka selalu terlihat kuat dengan cobaan-cobaan yang ada. Hingga hal kecil yang ingin saya lakukan seperti makan, kencing, sampai duduk pun harus dibantu mereka, karena saat itu fisik saya belum kuat untuk melakukan hal sekecil itu. untuk jalan pun saya masih di bantu oleh kedua orangtua saya.
Sehari saja di rumah sakit rasanya seperti setahun di rumah, tetapi apa boleh buat itu adalah resiko hidup yang harus dijalani dengan kesabaran dan ikhlas, dan saya sangatlah menyadari tanpa adanya kedua orang tua dan semua keluarga juga teman-teman saya saya tidak bisa apa-apa. Hari demi hari saya jalani pemulihan itu, sekitar 5 hari di rumah sakit dan 9 hari di rumah saya menjalani dengan kesabaran dan ikhlas. Teman-teman dan keluarga terdekat semua menengok saya, dan pada saat itu terasa sekali kehangatan yang mereka berikan dengan canda dan tawa. Saya sangatlah bersyukur memiliki keluarga dan teman-teman yang peduli dengan saya.
Hingga pada tanggal 1 april kemaren saya menjalani check up yang terakhir. Dan pada saat itu diketahui penyebab pasti penyakit saya dari hasil lab. Hasil lab mengatakan bahwa asal mula penyakit datang itu bukan hanya karena makanan saja tetapi yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan saya adalah pola hidup, aktivitas yang terlalu banyak yang menyebabkan saya jatuh terkena penyakit. Penyakit yang saya alami pun lumayan ganas, usus buntu yang ada di usus saya sudah pecah sudah menyebar kemana-mana, dan jika tidak karena orangtua saya yang gerak cepat untuk bertindak sehari saja saya bisa dinyatakan meninggal dunia. Karena racunnya itu sangat berbahaya dan sudah pecah dari usus buntu saya. Allhamdulillah ya allah nyawa saya masih terselamatkan...


Sekarang saya sangat-sangat menyadari omongan orang tua saya pada saat itu, karena bagaimana pun kesehatan itu nomer satu. Dan saya menyadari dua tahun terakhir kegiatan saya sangatlah banyak, saya jarang mendengarkan apa kata orang tua, saya juga tidak bisa membagi waktu dengan refreshing pada saat itu, padahal omongan orang tua dan menyisihkan waktu untuk sekedar refreshing itu adalah hal yang sangat penting. bekerja bekerja dan bekerja pada saat itu padahal di balik kegiatan yang banyak akan menimbulkan sesuatu yang berpengaruh pada fisik kita. Dari kejadian tersebut saya banyak sekali mendapat pelajaran dalam hidup ini.
Sekarang saya sudah dapat menjalani rutinitas saya kembali, saya sekarang lebih berfikir untuk hidup saya kedepan, yang pertama ingin selalu mendengarkan apa kata orangtua, karena sehebat-hebatnya kita pasti akan selalu membutuhkan sosok orang tua. Yang kedua ingin lebih mendekatkan diri pada allah swt. Karena bagaimana pun perjuangan kita yang sebenarnya adalah di dunia dan di akhirat. Yang ketiga ingin membangun pola hidup sehat dengan ber-olahraga dan pola makan yang teratur. Yang ke empat lebih memprioritaskan karir yang sedang dijalani. Dan yang ke lima adalah menjauhkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang menjadi kebiasaan saya.
Kini saya menyadari saya tidak bisa terlalu ambisi dalam semua kegiatan. Karena menjadi sukses itu bukanlah suatu kewajiban, yang menjadi kewajiban adalah perjuangan kita untuk menjadi sukses. Dan jika terlalu over saya harus bisa memprioritaskan kegiatan saya dan memporsirnya. Kini saya menyadari KELUARGA-lah yang selalu ada untuk kita dimanapun, kapanpun, sampai kapanpun yaa, mereka... Pengalaman ini tidak akan saya lupakan sampai kapanpun dan ini menjadi pelajaran untuk hidup saya sampai tua nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar