SIAPAKAH ORANG
YANG SELALU ADA DISISIMU?
Hallooo kenalin nih nama saya Rama Bintang, saya
mahasiswa tingkat 3 Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan Public Relations di
Universitas Islam Bandung. saya ingin berbagi cerita dengan teman-teman semua
tentang pentingnya sebuah keluarga, karena saya sudah sedikit merasakan
pengalaman hidup yang sangat berarti bagi saya, dan semoga tulisan ini
bermanfaat bagi diri saya juga yang membaca yaa. Oke kita mulai dari sini
aja... cekidot...
Dua taun terakhir rutinitas saya lumayan padat, karena
memang saya merasakan semakin tinggi kita berpendidikan maka terpaculah kita
ingin menjadi mahasiswa yang matang pula, bukan sekedar mahasiswa yang apatis,
tetapi dari dalam diri saya muncul keinginan untuk menjadi mahasiswa yang aktif
di dalam maupun luar kampus. Oleh karena itu di pertengahan tahun 2013 saya
mulai mencari ide-ide kreatif yang bisa dijadikan kegiatan yang positif. Pada
saat itu munculah ide dari hobi saya sendiri yang memang hobi di bidang musik
dan event, saya berfikir kenapa gak coba aja buat media sendiri, biar bisa
masuk ke event gratisan dan bisa ketemu artis secara langsung hehehe. Dari situ
munculah ide untuk membuat semacam media massa online, yang saya berinama
StereoSnap ID. Disini saya tidak sendirian, saya mencari partner dari
teman-teman saya yang memang berbeda-beda kampus, tetapi memiliki hobi yang
sama. Disitulah awal mula saya serius ingin menitih karir sesuai dengan hobi
dan fashion saya.
Setelah setahun dijalani bisnis media ini ternyata
cukup menggiurkan, tidak hanya masalah uang tetapi dari relasi, pengalaman, dan
yang jelas ini menjadi hobi dan fashion saya. Dari situ saya sangat semangat
menjalankan media ini, hingga munculah relasi-relasi baru yang menawarkan
beberapa kegiatan juga. Di akhir tahun 2013 saya tergabung dengan sebuah band,
karena memang hobi saya juga di bidang musik jadi tentu tawaran ini sangatlah
saya terima dengan senang hati. Dan di tahun 2014 awal tepatnya bulan februari
saya di terima di salah satu lembaga kampus yaitu himpunan mahasiswa public
relations, saya sangat senang karena saya berfikir semakin saya mencoba dunia
yang baru pengalaman dan relasi akan semakin kaya, apalagi ini berkaitan dengan
jurusan yang saya tekuni dan ini adalah bidang saya, gambaran jika suatu saat
saya kerja menjadi seorang PR perusahaan, amiiin...
Di tahun yang sama 2014 saya merasakan banyak sekali
kegiatan yang saya tekuni, mulai dari media, band, lembaga kampus dan yang
pasti harus bisa membagi waktu semua kegiatan itu dengan kegiatan utama saya
menjalani pendidikan kuliah, juga membagi waktu untuk refreshing dan
ber-olahraga. Disitu saya sedikit kewalahan karena saya tau otak tidak bisa
terlalu banyak menampung, oleh karena itu
saya harus bisa menyisihkan salah satu kegiatan yang dianggap tidak
terlalu penting dan saya harus bisa memprioritaskan mana yang lebih penting
dari semua kegiatan terserbut.
Seiring berjalannya waktu saya merasakan kegiatan
saya semakin meningkat dan alhamdulillah berguna untuk diri sendiri juga orang
banyak. Hingga di akhir tahun 2014 tepatnya di bulan desember saya terpilih
menjadi ketua pelaksana event terbesar di jurusan saya, dan alhamdulillah bisa
terbilang sukses dengan mendatangkan kurang lebih 2.000 pengunjung melebihi
target yang hanya 1.000 pengunjung. Dan puncaknya di awal tahun 2015 saya
terpilih menjadi kandidat ketua Himpunan jurusan saya, meskipun gak menang sih
tapii yaa lumayan lah pengalaman hehe. Dari semua kegiatan itu saya merasakan
keterbatasan fisik saya, saya mulai sering merasakan kecapean, padahal jauh
sebelumnya orang tua saya sering bilang “jangan terlalu over dalam melakukan
sesuatu, meskipun itu positif dan dirasa enak tapi inget karena kesehatan yang
paling utama, jangan terlalu cape”.
Beberapa tahun kebelakang saya sangat sering
mengabaikan kalimat tersebut, karena saya terlalu bersemangat dalam menekuni
semua kegiatan itu. padahal keluarga saya sering mengingatkan dan sangat sering
menghawatirkan kesehatan saya hingga beberapa kali melarang saya mengikuti
kegiatan sebanyak itu. saat memasuki bulan februari akhir saya baru berfikir
bahwa kesehatan itu sangatlah penting, dari situ saya terpacu untuk mencoba
pola hidup sehat, saya mulai rutin ber-olahraga, menjaga pola makan yang baik,
dan mengurangi kebiasaan-kebiasaan buruk saya.
Tetapi tidak kurang dari tiga minggu berjalan
tepatnya pada tanggal 10 maret saya merasakan gejala yang sangat hebat, badan
saya demam tinggi, perut melilit seakan di putar-putar didalam, badan terkujur
sangat lemas. Ibu saya langsung bertindak cepat, saya langsung dilarikan ke
dokter terdekat, dan kata dokter ternyata hanya gejala magh saja, saat itu semua
keluarga saya sedikit tenang karena penyakitnya masih bisa di obati di rumah. Setelah
sehari diobati di rumah ternyata gejala yang saya alami malah semakin memburuk,
saat itu saya langsung di bawa ke rumah sakit dan pada saat di cek oleh dokter
khusus, saya di diagnosis terkena usus buntu akut. Dan harus segera di operasi.
Semua keluarga saya ada di situ, ibu, ayah, dan kaka saya. Seketika semua
kaget. Karena memang belum pernah ada di keluarga saya yang terkena penyakit
hingga harus di operasi. Semua belum percaya bahwa saya memang harus di
operasi, orang tua saya langsung bertindak cepat saya di tes melalui cek lab,
rongen, usg, hingga ct scan untuk meyakini bahwa penyakit saya ini usus buntu
akut dan harus segera di operasi, saat hasil sudah terlihat ternyata benar
bahwa saya terkena usus buntu akut dan harus segera di operasi besar. Saya dan
keluarga semua pasrah, hanya bisa berdoa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
di inginkan dan bisa pulih kembali.
Pada saat itu hari jumat tanggal 13 maret, tepat
pukul 21.00 WIB saya dimasukan ke ruang operasi, setelah 2 hari sebelumnya saya
sempat di rawat di rumah sakit. Semua tidak menyangka bahwa saya yang
sehari-harinya menjalani aktivitas yang mobilitasnya cukup tinggi bisa sakit
dan hingga di operasi seperti ini, saya hanya bisa terkujur lemah saat itu.
keluarga saya hanya bisa terus berdoa dan semua menunggu saya di luar ruang
operasi meskipun saat itu hari sudah larut, tetapi kecintaan mereka terhadap
saya tidak pernah ada habisnya. Ini adalah pengalaman pertama yang saya
rasakan, sungguh gak pernah nyangka sebelumnya saya bisa seperti ini. Setelah
selesai operasi sekitar pukul 24.00 saya merasa sadar gak sadar karena masih
terpengaruh obat bius, pada saat keluar dari ruangan saya melihat samar-samar wajah
orangtua saya juga keluarga-keluarga saya yang lain yang setia menunggu hingga
pada saat itu, tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa pada mereka karena badan
saya sangat terkujur lemah sekali.
Setelah proses operasi selesai saya dirawat sekitar
5 hari di rumah sakit untuk proses pemulihan. Rasanya sangat lemah sekali badan
saya, jika tidak ada keluarga yang setia menemani saya pada saat itu, saya
tidak bisa apa-apa. Saat masa pemulihan kedua orangtua saya selalu ada disisi
saya, menjaga dan merawat saya. Padahal saya tau pada saat itu masih sangat
banyak pekerjaan penting mereka yang belum sempat dikerjakan, tetapi mereka
lebih memilih merawat saya. Meskipun saya juga tau tidak sedikit uang yang di
keluarkan oleh kedua orangtua saya pada saat itu, tetapi mereka selalu terlihat
kuat dengan cobaan-cobaan yang ada. Hingga hal kecil yang ingin saya lakukan
seperti makan, kencing, sampai duduk pun harus dibantu mereka, karena saat itu
fisik saya belum kuat untuk melakukan hal sekecil itu. untuk jalan pun saya masih
di bantu oleh kedua orangtua saya.
Sehari saja di rumah sakit rasanya seperti setahun
di rumah, tetapi apa boleh buat itu adalah resiko hidup yang harus dijalani
dengan kesabaran dan ikhlas, dan saya sangatlah menyadari tanpa adanya kedua
orang tua dan semua keluarga juga teman-teman saya saya tidak bisa apa-apa.
Hari demi hari saya jalani pemulihan itu, sekitar 5 hari di rumah sakit dan 9
hari di rumah saya menjalani dengan kesabaran dan ikhlas. Teman-teman dan
keluarga terdekat semua menengok saya, dan pada saat itu terasa sekali
kehangatan yang mereka berikan dengan canda dan tawa. Saya sangatlah bersyukur
memiliki keluarga dan teman-teman yang peduli dengan saya.
Hingga pada tanggal 1 april kemaren saya menjalani
check up yang terakhir. Dan pada saat itu diketahui penyebab pasti penyakit
saya dari hasil lab. Hasil lab mengatakan bahwa asal mula penyakit datang itu
bukan hanya karena makanan saja tetapi yang sangat berpengaruh terhadap
kesehatan saya adalah pola hidup, aktivitas yang terlalu banyak yang
menyebabkan saya jatuh terkena penyakit. Penyakit yang saya alami pun lumayan
ganas, usus buntu yang ada di usus saya sudah pecah sudah menyebar kemana-mana,
dan jika tidak karena orangtua saya yang gerak cepat untuk bertindak sehari
saja saya bisa dinyatakan meninggal dunia. Karena racunnya itu sangat berbahaya
dan sudah pecah dari usus buntu saya. Allhamdulillah
ya allah nyawa saya masih terselamatkan...

Sekarang saya sangat-sangat menyadari omongan orang
tua saya pada saat itu, karena bagaimana pun kesehatan itu nomer satu. Dan saya
menyadari dua tahun terakhir kegiatan saya sangatlah banyak, saya jarang
mendengarkan apa kata orang tua, saya juga tidak bisa membagi waktu dengan
refreshing pada saat itu, padahal omongan orang tua dan menyisihkan waktu untuk
sekedar refreshing itu adalah hal yang sangat penting. bekerja bekerja dan
bekerja pada saat itu padahal di balik kegiatan yang banyak akan menimbulkan
sesuatu yang berpengaruh pada fisik kita. Dari kejadian tersebut saya banyak
sekali mendapat pelajaran dalam hidup ini.
Sekarang saya sudah dapat menjalani rutinitas saya
kembali, saya sekarang lebih berfikir untuk hidup saya kedepan, yang pertama ingin
selalu mendengarkan apa kata orangtua, karena sehebat-hebatnya kita pasti akan
selalu membutuhkan sosok orang tua. Yang kedua ingin lebih mendekatkan diri
pada allah swt. Karena bagaimana pun perjuangan kita yang sebenarnya adalah di
dunia dan di akhirat. Yang ketiga ingin membangun pola hidup sehat dengan
ber-olahraga dan pola makan yang teratur. Yang ke empat lebih memprioritaskan
karir yang sedang dijalani. Dan yang ke lima adalah menjauhkan
kebiasaan-kebiasaan buruk yang menjadi kebiasaan saya.
Kini saya menyadari saya tidak bisa terlalu ambisi
dalam semua kegiatan. Karena menjadi sukses itu bukanlah suatu kewajiban, yang
menjadi kewajiban adalah perjuangan kita untuk menjadi sukses. Dan jika terlalu
over saya harus bisa memprioritaskan kegiatan saya dan memporsirnya. Kini saya menyadari
KELUARGA-lah yang selalu ada untuk
kita dimanapun, kapanpun, sampai kapanpun yaa, mereka... Pengalaman ini tidak
akan saya lupakan sampai kapanpun dan ini menjadi pelajaran untuk hidup saya
sampai tua nanti.